Saat Anak Sulit Tidur, Menulis Bisa Jadi Ritual Penutup Hari

By Anita
Contributing Editor

At a glance
- Anak sering kesulitan tidur karena overstimulasi (gadget/aktivitas padat) atau emosi tertahan yang membuat otak terus bekerja. Mereka butuh cara untuk menurunkan kecepatan pikiran sebelum beristirahat.
- Menulis jurnal malam hari adalah ritual lembut untuk memindahkan isi pikiran ke kertas, yang secara efektif merapikan kekusutan di otak dan membantu anak mengenali serta menurunkan intensitas emosi (dari marah 9/10 menjadi 5/10).
- Ritual menulis (hanya 5-10 menit) menumbuhkan self-regulation (mengatur diri sendiri) pada anak. Dengan konsisten, tubuh dan otak akan mengenali sinyal bahwa momen menulis berarti waktunya siap beristirahat.
Ketika Tubuh Lelah, tapi Pikiran Anak Masih Berkeliaran
Banyak orang tua melihat anak sudah di tempat tidur, lampu sudah dimatikan, tapi mata masih lebar terbuka. Ada yang bolak-balik posisi, minta minum, tiba-tiba lapar, atau mendadak ingin cerita banyak hal. Secara fisik mereka lelah, tapi pikirannya belum selesai “bekerja”.
Anak bisa kesulitan tidur karena berbagai hal, karena terlalu banyak stimulasi dari gadget, aktivitas seharian yang padat, kecemasan akan besok, atau perasaan yang tertahan dan belum sempat disampaikan. Semua itu menumpuk di kepala dan hati, membuat mereka sulit benar-benar rileks. Di titik ini, mereka tidak hanya butuh “jam tidur” mereka butuh ritual penutup hari yang membantu otak dan emosi pelan-pelan menurunkan kecepatan. Salah satu cara lembut yang bisa dicoba adalah menulis jurnal sebelum tidur.
Mengapa Menulis Jurnal Bisa Membantu Anak Lebih Mudah Tidur?
Saat menulis jurnal malam, anak diberi kesempatan untuk “mengosongkan” sedikit isi kepalanya. Hal-hal yang tadinya berputar di otak kejadian di sekolah, rasa kesal ke teman, cemas dengan ulangan, atau momen bahagia hari ini dipindahkan ke kertas.
Proses sederhana ini membantu:
- Merapikan pikiran
Apa yang tadi terasa kusut di kepala, ketika ditulis, menjadi lebih jelas, “Oh, ternyata aku sedih karena tadi dimarahi”, “Ternyata aku sebenarnya bangga dengan diriku hari ini.” - Memberi nama pada emosi
Anak belajar mengenali, aku lagi sedih, senang, takut, malu, atau kesal. Emosi yang dinamai lebih mudah ditenangkan dibanding emosi yang hanya dirasakan samar-samar. - Menurunkan intensitas perasaan
Saat emosi dituangkan ke tulisan, intensitasnya sering kali menurun. Marah yang tadinya 9/10 bisa turun jadi 6/10 atau 5/10. Kepala terasa lebih ringan, hati lebih lega. - Menciptakan rasa penutup
Dengan menulis, anak merasa “Oke, hari ini sudah selesai. Ceritaku sudah tertulis.” Ada rasa tuntas yang membantu mereka siap memasuki mode istirahat.
Menulis jurnal malam hari bukan hanya aktivitas literasi. Ia adalah bentuk kecil dari self-regulation, anak belajar mengatur diri sendiri sebelum tidur.
Membuat Ritual Jurnal Sebelum Tidur yang Sederhana dan Hangat
Ritual ini tidak harus rumit. Justru semakin sederhana dan konsisten, semakin mudah dijalankan. Orang tua bisa menyiapkan satu buku khusus yang disebut “Buku Malam Ini” atau “Buku Cerita Hari Ini”. Sebelum tidur, ajak anak duduk sebentar 5 hingga 10 menit sudah cukup. Lampu bisa diredupkan, suasana dibuat tenang.
Anak kemudian diajak menulis beberapa hal singkat, misalnya satu hal yang paling diingat dari hari ini, satu perasaan yang paling kuat hari ini, satu hal yang disyukuri atau membuatnya tersenyum.
Untuk anak yang belum lancar menulis, mereka bisa menggambar atau minta dibantu orang tua menuliskan apa yang mereka ceritakan. Yang penting, mereka merasakan momen berhenti sejenak, merefleksikan hari ini, lalu menutupnya dengan sadar.
Dari Gelisah ke Lebih Tenang, Manfaat yang Pelan-Pelan Terasa
Perubahan mungkin tidak selalu langsung terlihat di malam pertama. Namun, ketika ritual ini dijalankan secara konsisten, anak mulai mengasosiasikan kegiatan menulis dengan rasa tenang dan siap tidur. Perlahan, mereka belajar bahwa sebelum tidur, ada langkah-langkah yang dilakukan, berhenti dari layar, duduk sebentar, menulis, menarik napas, lalu berbaring. Tahapan ini membantu tubuh dan otak mengenali sinyal “Waktunya istirahat.
Ritual Menulis di Kelas Karya
Di Kelas Karya, kami melihat menulis bukan hanya sebagai latihan akademik, tetapi juga sebagai cara anak merawat diri. Dalam beberapa sesi, anak diajak mengenal bentuk-bentuk “jurnal emosi” dan “jurnal refleksi hari ini” yang ringan dan menyenangkan. Kami percaya, dengan ruang yang aman dan hangat, anak bisa belajar bahwa menulis adalah teman baiknya, teman yang mau mendengar tanpa menghakimi, dan selalu tersedia setiap malam sebelum tidur.
“Saat hari terasa berat untuk anak, selembar kertas dan sebatang pensil bisa menjadi selimut kedua bagi pikirannya.”
Ajak Anak Mencoba Ritual Penutup Hari Lewat Menulis
Jika anak Anda sering gelisah, sulit tidur, atau kepalanya terasa “penuh” menjelang malam, cobalah menghadirkan kebiasaan kecil, menulis jurnal sebelum tidur. Temukan kelas menulis kreatif yang membantu anak mengenal journaling, cerita, dan ekspresi diri di Kelas Karya, dan biarkan mereka merasakan sendiri bagaimana menulis bisa menjadi pelukan lembut sebelum mereka memejamkan mata.
Want to get more stories?
Be the first to know about new articles, creative tips, and special offers from Karya Raya.